Kecerdasan bermedia (media literacy) adalah suatu kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan menghasilkan komunikasi dalam berbagai bentuk melalui media. Dengan kecerdasan bermedia, individu mampu mengelola pesan di media demi membekali diri menghadapi kenyataan hidup sehari-hari. Pada dasarnya kita menghadapi dua realitas dalam hidup kita, yakni realitas dalam dunia nyata dan realitas di media (Potter, Media Literacy, 2001). Dunia nyata adalah tempat di mana kita melakukan kontak langsung dengan orang-orang lain, lokasi, dan peristiwa. Sebagian besar dari kita merasa bahwa dunia nyata ini amat terbatas, sehingga kita tidak dapat mengambil semua pengalaman dan informasi. Dalam rangka memperoleh pengalaman-pengalaman dan informasi tersebut, kita melakukan penjelajahan melalui dunia media.
Di situlah letak permasalahannya. Realitas di media, karena tidak alami, amat rentan terhadap distorsi. Karena pesan-pesan di media dikonstruksi, pesan-pesan itu merupakan representasi dari realitas yang diboncengi nilai-nilai dan sudut pandang, dan masing-masing bentuk media menggunakan seperangkat aturan yang unik untuk mengonstruksi pesan-pesan. Jadi, seseorang harus memiliki suatu kecakapan dalam berhadapan dan mengonsumsi media.
membekali remaja adalah salah satu langkah tepat. Sebuah ruang sosial bisa berubah jika perubahan itu bisa dimulai dari setiap anggota sosial sendiri. Jika tangan kita terlalu pendek untuk menjangkau para pemilik media dan pembuat tayangan remaja di televisi, yang paling bisa kita lakukan adalah menyentuh dunia pendidikan yang sebenarnya berada di sekitar kita.
Guru dan orangtua adalah bagian terpenting dalam konteks pemeliharaan kekebalan remaja. Oleh karena itu, yang tidak kalah penting juga adalah bagaimana sekolah memberikan sumbangan terhadap anak didiknya agar tidak mudah terjebak pada imajinasi media yang menipu.
Persoalannya adalah bahwa hari ini tidak ada orang atau lembaga mana pun, bahkan negara, yang mampu mencegah agar remaja tidak menonton televisi. Maka, yang mungkin dilakukan dalam keadaan terpaksa ini adalah membiarkan remaja terus menonton televisi, tetapi membekali mereka dengan sebuah pertahanan atau kekebalan tubuh yang dapat memfilter apa yang disaksikan.
Media literacy merupakan salah satu bentuk tawaran, bagaimana setiap orang akan dapat menyaring apa yang dia saksikan dan dengarkan dari media massa. Media literacy menawarkan sebuah harapan akan lahirnya audiens kritis. Audiens kritis adalah mereka yang sadar betul bahwa tayangan yang disaksikan merupakan produk rekayasa yang belum tentu benar sehingga belum tentu layak menjadi tuntutan. Generasi audiens kritis adalah mereka yang sadar bahwa hidup berada pada sebuah realitas sosial konkret, bukan pada dunia yang mengawang dan selalu mengkhayal.
Melalui media literacy, para remaja diharapkan tidak kemudian menjadi audiens pasif dan hanya menjadi obyek media. Mereka tidak lagi menjadi robot berjalan yang dapat dikontrol melalui sebuah produk tayangan yang selalu menguntungkan pihak pengusaha, yang telah menanggalkan sisi moral, etika, budaya, dan religi. Begitu penting dan mendesaknya media literacy sehingga perlu dibuat rekayasa sistematis untuk menyukseskannya, salah satunya melalui lembaga pendidikan formal. Dengan demikian, sekolah akan menjadi solusi atas berbagai dekadensi moral remaja, bukan sebaliknya. Semoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar