Jumat, 02 Juli 2010

Tawuran dan Siri’ Na Paccce

Mempertahankan harga diri yang kerap berbenturan dengan kepentingan orang lain. Hal demikian yang mudah menimbulkan konflik pribadi yang berujung pada konflik kelompok seperti yang terjadi pada tawuran mahasiswa Unhas baru-baru ini. Tercatat tiga kali tawuran antar mahasiswa Unhas yang terhitung sejak awal tahun 2010. Tawuran yang baru saja terjadi, Selasa (25/5) terjadi antara mahsiswa Teknik dan Mahasiswa Sospol. Tawuran ini dipicu karena pemukulan terhadap mahasiswa sospol dianggap mencederai kelompoknya. Hal yang sama juga terjadi ketika terjadi ketika tawuran mahasiswa teknik dan mahasiswa peternakan. Tak terkecuali tawuran mahasiswa perikanan dan mahasiswa ilmu kelautyan.
Budaya siri’ na pace ini memang identik dengan orang Makassar. Budaya sir’ na pace’yang mendukung peningkatan harkat dan derajat manusia kerap disalah artikan. Bentuk persatuan dan menjaga kehormatan diartikan negatif. Sehingga konflik mudah saja terjadi dan disebabkan karena faktor sepele. Walaupun dalam teori konflik menjelaskan pertikaian dan konflik dalam masyarakat tidak akan selamanya berada pada keteraturan. Dalam konflik, termasuk tawuran disebakan adanya konflik kepentingan.
Kondisi ini menghadapkan pada konflik yang abstrak (pseudo conflic) dimana satu kelompok menyerang kelompok lain tanpa mengetahui asal mula kejadian. Konglik ini dapat juga dikategorikan konflik non realistis, Konflik Non- Realistis, konflik yang bukan berasal dari tujuan- tujuan saingan yang antagonis, tetapi dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan, paling tidak dari salah satu pihak (Coser)
Oleh karena itu, diperlukan suatu kondisi yang objektif yang dapat mencegah terjadinya konflik internal kampus. Hal ini dapat juga disebut iklim dalam mengelola organisasi kampus. Tahiuni dalam Delp (1977) menyimpulkan bahwa iklim organisasi adalah kualiatas relatif dari lingkungan internal suatu organisasi, yang dialami dan mempengaruhi perilaku anggotanya, dan dapat digambarkan dalam suatu perangkat karakteristik.
Olehnya itu, setiap perangkat civitas akademika menjadi penentu arah pelaksanaan kebijakan termasuk di Universitas Hasanuddin. Pimpinan universitas menjadi faktor penting menciptakan iklim akademik. Menurut Sergiovanni dalam Moedjiarto (2002) iklim secara umum diciptakan, dibentuk dan disalurkan sebagai hasil dari suatu kepemimpinan interpersonal yang efektif oleh pimpinan.
. Disisi lain Menurut teori konflik, masyarakat disatukan dengan “paksaan”. Maksudnya, keteraturan yang terjadi di masyarakat sebenarnya karena adanya paksaan (koersi). Oleh karena itu, teori konflik lekat hubungannya dengan dominasi, koersi, dan power. Disisi lain, pacce itu dapat memupuk rasa persatuan dan kesatuan bangsa, membina solidaritas antara manusia agar mau membantu seseorang yang mengalami kesulitan.
Ada dua hal yang dapat dilakukan untuk menangani konflik yang terjadi diantaranya, proses perubahan reaktif. manajemen bereaksi atas tanda-tanda bahwa perubahan dibutuhkan, pelaksanaan modifikasi sedikit demi sedikit untuk menangani masalah tertentu yang timbul. Program perubahan yang direncanakan (planned change), disebut sebagai proses proaktif., melakukan berbagai investasi waktu dan sumberdaya lainnya yang berarti untuk mengubah cara-cara iklim kampus dengan uklim yang betul-betul intelektual .(diolah dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar